Harga Kebutuhan Pokok Masih Tinggi, Warga Rembang Perketat Pengeluaran Rumah Tangga
Kenaikan harga kebutuhan pokok yang masih berlangsung membuat sebagian masyarakat harus semakin cermat mengatur pengeluaran rumah tangga. Kondisi tersebut dirasakan oleh Jamiah, seorang ibu rumah tangga asal Sluke, Rembang. Menurut Jamiah, pengeluaran rumah tangga saat ini terasa semakin berat karena harga berbagai kebutuhan pokok masih tergolong tinggi. "Hampir semua naik, contohnya minyak goreng, gula, dan lauk-pauk," ujar Jamiah, Selasa (2/6/2026).
Meski demikian, ia mengaku tidak mengurangi kebutuhan lauk-pauk keluarga. Sebagai gantinya, ia memangkas pengeluaran untuk kebutuhan lain yang dinilai kurang mendesak. Untuk menyiasati kondisi tersebut, Jamiah memanfaatkan lahan di sekitar rumah dengan menanam berbagai jenis sayuran, seperti terong, cabai, tomat, dan bayam. Selain itu, ia juga menambah pemasukan dengan berjualan secara online maupun offline. Ia menilai kebiasaan membeli kebutuhan secara eceran justru lebih boros dibandingkan berbelanja dalam jumlah grosir. Karena itu, ia lebih memilih membeli kebutuhan rumah tangga dalam jumlah besar jika memungkinkan."Saya lebih suka belanja di warung dekat rumah karena jaraknya lebih dekat daripada ke minimarket," imbuhnya.
Jamiah juga mengaku mulai mengurangi pembelian barang-barang yang dianggap tidak terlalu penting, seperti pakaian dan peralatan dapur. Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan pokok sangat memengaruhi kondisi keuangan keluarga. Meskipun telah melakukan berbagai penghematan, harga sejumlah kebutuhan pokok dinilai meningkat hampir dua kali lipat, sementara pendapatan keluarga tidak mengalami kenaikan. "Kami tetap memprioritaskan menabung, meskipun jumlahnya menurun drastis," sahut Jamiah.
Sementara itu, Mentor Petani Horti Mandiri, Bambang Suprianto dari Blora, menyampaikan, harga cabai di tingkat petani mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.Ia menjelaskan, harga cabai merah keriting (CMK) pada Januari hingga April berkisar Rp13 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Adapun harga cabai merah rawit atau cabai setan berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram. Memasuki Mei 2026, harga CMK naik menjadi Rp40 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah rawit mencapai Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram di tingkat petani.
Menurut Bambang, kondisi cuaca menjadi faktor utama yang memengaruhi produksi cabai. Tanaman yang dipanen pada Mei merupakan hasil tanam pada Maret lalu, saat cuaca tidak menentu. "Jika musim hujan, tanaman cabai rentan terserang penyakit karena curah hujan tinggi dan kondisi tanah menurun. Sebaliknya, saat musim kemarau tanaman cabai rentan terhadap serangan hama," ucap Bambang, pada Selasa (2/6/2026).
Perubahan cuaca tersebut juga berdampak pada meningkatnya biaya produksi, terutama untuk kebutuhan pestisida dan nutrisi tanaman. Karena itu, petani dituntut lebih kreatif dalam menekan biaya dengan memanfaatkan pupuk organik cair maupun pestisida nabati.
Bambang memperkirakan biaya modal budidaya cabai mulai dari pengolahan lahan hingga awal panen mencapai Rp5.000 hingga Rp8.000 per batang tanaman. Dengan populasi 5.000 tanaman dan biaya rata-rata Rp6.000 per batang, modal yang dibutuhkan dapat mencapai sekitar Rp30 juta.
Ia menyoroti tingginya harga cabai saat ini menjadi kondisi yang dilematis. Di satu sisi, harga tinggi memberikan keuntungan bagi petani. Namun di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen harus menanggung beban kenaikan harga.
Selain faktor cuaca, Bambang menyebut tingginya harga pupuk dan pestisida masih menjadi tantangan utama bagi petani. Di samping itu, masih terdapat kendala berupa kurangnya pemahaman sebagian petani mengenai teknik budidaya, pengamatan hama terpadu, serta ketelitian dalam penggunaan pupuk dan pestisida.
Menurutnya, kondisi tersebut juga mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat, termasuk penghematan dalam membeli bahan pokok sehari-hari. Ke depan, Bambang berharap petani dapat memperkuat jaringan kerja sama untuk mengembangkan budidaya cabai secara berkelanjutan. Ia juga mengajak masyarakat untuk mendukung produk pertanian lokal dengan membeli dan mengonsumsi hasil pangan secara bijaksana.
Kepada pemerintah, Bambang berharap adanya regulasi dan pengawasan yang lebih kuat terkait stabilisasi harga pangan. Ia juga mendorong peningkatan pendampingan dan penyuluhan kepada petani di lapangan. "Jangan biarkan petani berjuang sendiri. Harapan kami harga cabai tetap stabil, petani memperoleh keuntungan yang layak, dan masyarakat masih mampu menjangkaunya," pungkasnya.
Penulis : Ayu Lestari
Editor : Tim Publikasi

Komentar
Posting Komentar