Jurnaliska Al-Kamal: BEM Se-Rembang Desak Evaluasi Total Program MBG, Keselamatan Pelajar Jangan Jadi Taruhan




REMBANG, 4 September 2026 — Kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Rembang. Kali ini, ratusan siswa dan guru SMAN 1 Lasem mengalami gangguan kesehatan berupa diare, mual, sakit perut hingga muntah setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan sehari sebelumnya.


Berdasarkan laporan sejumlah media, sebanyak 725 siswa dan 25 guru SMAN 1 Lasem mengalami gejala diare dan gangguan pencernaan pada Kamis (3/9/2026). Kondisi tersebut bahkan membuat kegiatan belajar mengajar dihentikan lebih awal dan para siswa dipulangkan. Sejumlah korban kemudian mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Lasem. 


Kejadian di Lasem menjadi perhatian serius BEM Se-Rembang. Pasalnya, kasus tersebut terjadi tidak lama setelah dugaan keracunan MBG yang sebelumnya menimpa warga SMPN 5 Rembang. Dalam kasus sebelumnya, Dinkes Rembang menyebut dugaan sementara mengarah pada kontaminasi bakteri pada salah satu menu makanan dan penyelidikan laboratorium dilakukan untuk memastikan penyebabnya. 


Melalui pernyataan sikapnya, BEM Se-Rembang menilai kejadian berulang tersebut tidak dapat lagi dianggap sebagai persoalan kebetulan atau insiden biasa.


> “Kejadian berulang yang menimpa ratusan pelajar dan puluhan guru di SMAN 1 Lasem, hanya berselang singkat dari kasus di SMPN 5 Rembang, adalah konfirmasi nyata bahwa ini bukan lagi sekadar kebetulan, melainkan menunjukkan adanya persoalan sistemik dalam pelaksanaan dan pengawasan program MBG.”




BEM Se-Rembang menyoroti lemahnya kontrol kualitas serta pengawasan terhadap makanan yang diberikan kepada para pelajar. Menurut mereka, program yang memiliki tujuan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat tidak boleh mengabaikan aspek paling mendasar, yakni keamanan dan keselamatan penerima manfaat.


BEM Se-Rembang juga mengkritik apabila masyarakat hanya diminta untuk “maklum” dan “sabar” tanpa adanya evaluasi menyeluruh serta pertanggungjawaban yang jelas.


> “Ketika ratusan siswa menjadi korban, respons yang beradab bukanlah retorika penenang atau permintaan maaf tanpa sanksi tegas. Evaluasi total, audit independen, serta proses hukum apabila ditemukan kelalaian adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan.”




BEM Se-Rembang Menyatakan Sikap


Atas kejadian tersebut, BEM Se-Rembang mendesak pemerintah untuk:


1. Melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan program MBG, mulai dari pengadaan, pengolahan, distribusi hingga pengawasan makanan.



2. Melakukan audit independen dan transparan terhadap SPPG yang berkaitan dengan kasus dugaan keracunan.



3. Menghentikan sementara distribusi MBG pada titik yang bermasalah sampai keamanan makanan benar-benar dapat dipastikan.



4. Melakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab kejadian dan pihak yang bertanggung jawab.



5. Memberikan sanksi tegas dan menempuh proses hukum apabila ditemukan unsur kelalaian atau pelanggaran.



6. Membuka hasil pemeriksaan kepada publik sebagai bentuk transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah.




BEM Se-Rembang menegaskan bahwa kritik tersebut bukan ditujukan untuk menolak tujuan pemenuhan gizi bagi pelajar, melainkan sebagai bentuk kontrol mahasiswa terhadap pelaksanaan kebijakan publik.


“Program MBG boleh memiliki tujuan yang baik, tetapi tujuan yang baik tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keselamatan manusia. Jangan jadikan pelajar sebagai objek percobaan kebijakan.”


BEM Se-Rembang menutup pernyataan sikapnya dengan menegaskan bahwa keselamatan pelajar harus ditempatkan di atas kepentingan program dan target kebijakan.


HIDUP MAHASISWA!

HIDUP RAKYAT INDONESIA!

HIDUP PEREMPUAN YANG MELAWAN!



---


Penulis: Abdul Khakim

Bidang Kajian BEM Se-Rembang


Dimuat oleh: Jurnaliska Al-Kamal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Struktur Redaksi Media dalam Jurnalistik Beserta Tugas dan Fungsinya

Cara Berpakaian Orang Jawa Kuno

Memperioritaskan Hisab (Ilmu Falak) Daripada Rukyah