Jenis yang satu ini sebenarnya tidaklah pantas disebut wartawan karena dia tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya seorang wartawan. Embel-embel kata "wartawan" sudah terlanjur digunakan karena mereka sering kali mengaku sebagai wartawan. Ditambah lagi kedekatan pergaulan mereka dengan kalangan wartawan memperkuat sebutan wartawan pada mereka. Siapakah Sebenarnya Mereka? Mereka sebenarnya adalah para WTS (Wartawan Tanpa Suratkabar) atau juga sering disebut "Wartawan Bodrex". Biasanya para WTS atau wartawan bodrex sering mengikuti acara-acara yang juga dihadiri oleh para wartawan, seperti konfrensi pers, seminar, diskusi, pameran dan pertemuan para pengusaha. Bahkan, ada pula diantara orang-orang itu yang mendapatkan sumber berita secara langsung dari pejabat atau politikus yang mereka temua. Para Bodrex itu datang sebagaimana wartawan sungguhan. Mereka berdandan rapih, membawa tas dan peralatan seperti buku notes, tape recorder, kamera dan peralatan kewartawana...
Dalam penerbitan perusahaan pers, yang berwenang mengizinkan ataupun menolak suatu berita untuk dilakukan pemublikasian sepenuhnya berada di tangan redaksi. Untuk urusan berita, mutlak menjadi tanggung jawab dari redaksi. Bukan urusan bagian iklan, personalia atau percetakan. "Isi di luar tanggung jawab percetakan," begitulah peraturannya. Secara struktural, redaksi media umumnya terdiri atas pemimpin redaksi, redaktur pelaksana (redaktur eksekutif), redaktur, asisten redaktur, koordinator liputan/reportase, dan reporter. Setipa divisi ini menjalani fungsinya masing-masing hingga melahirkan suatu produk berita baik yang dicetak, disiarkan, ataupun ditayangkan. Pemimpin redaksi adalah jabatan tertinggi dalam jajaran redaksi, dan bertanggung jawab terhadap berita yang diterbitkan di medianya. Ataupun, jika terjadi kasus atau delik pers, pemimpin redaksi juga dapat melimpahkan tanggung jawabnya kepada bawahannya, yaitu redaktur eksekutif. Berikut ini adalah struktur redaksi yan...
Adegan Sinta dan Trijata yang memakai kemben dan kain dalam relief Ramayana di Candi Panataran, Blitar. Tak kalah menawan dengan Putri Indumati, ina dan uwa-nya, bersolek mengenakan baju merah. Keduanya belum terlalu tua. Rambut mereka bergelombang, diselingi warna kelabu. Lalu para dayang belia datang bagaikan dewi, mengenakan kemben kain wulang emas. Selendang emas murni yang mereka sampirkan pada bahu tampak berkilauan seperti sayap untuk terbang. Mereka masih keturunan bangsawan sahabat raja. Mereka tengah menghadiri sayembara memperebutkan Putri Indumati. Suasana itu diungkapkan oleh Mpu Monaguna, pujangga dari Kadiri pada abad ke-13 M lewat karyanya Kakawin Sumanasāntaka. Dari gambaran singkat itu terbayang bagaimana pakaian orang-orang pada masa lalu. Selain dari karya sastra, informasi itu juga muncul dalam relief candi dan prasasti. Menurut Petrus Josephus Zoetmulder, ahli sastra Jawa Kuno, kain wulang adalah perangkat busana perempuan saat seremonial. Bentuknya sec...
Komentar
Posting Komentar