PPP REMBANG MENENTANG PENGHENTIAN DANA HIBAH FASILITAS KEAGAMAAN





REMBANG — Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Rembang menyatakan sikap tegas menentang penghentian dan penahanan dana hibah untuk fasilitas keagamaan yang disebut mencapai Rp13 miliar.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gus Idror pada Rabu, 2 September 2026, sekitar pukul 22.00 WIB, bertempat di kediaman pak Mujib, Sekretaris Jenderal PPP.

Dalam pernyataannya, Gus Idror menilai persoalan penghentian dan penahanan dana hibah keagamaan perlu menjadi perhatian serius seluruh elemen masyarakat Rembang. Ia juga mengajak partai-partai politik dan masyarakat untuk bersama-sama memberikan perhatian terhadap kebijakan tersebut.

Menurutnya, keagamaan merupakan salah satu ciri khas Kabupaten Rembang. Daerah ini memiliki sejarah panjang dalam melahirkan tokoh-tokoh besar yang memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara, di antaranya KH Bisri Mustofa Rembang, Mbah Kholil Harun Rembang, R.A. Kartini, KH Kholil Lasem, KH Baidhowi Lasem, hingga KH Maimoen Zubair Sarang.

Gus Idror menilai bahwa menjaga kehidupan keagamaan bukan hanya persoalan menjalankan aktivitas keagamaan, tetapi juga merupakan bagian dari upaya membangun sumber daya manusia Rembang.

Ia mencontohkan peran para ulama terdahulu dalam menjaga persatuan bangsa. Salah satunya adalah KH Baidhowi Lasem, yang melalui pemikirannya turut mendorong umat Islam untuk tetap menyatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Gus Idror, pembangunan daerah tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan fisik dan ekonomi. Pembangunan mental, moral, dan spiritual masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan bangsa.

Ia juga menilai ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan pangan secara fisik, tetapi juga membutuhkan ketahanan mental masyarakat.

Hal tersebut dikaitkan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”

Gus Idror menekankan, sebanyak apa pun sumber daya yang dimiliki suatu negara, apabila masyarakatnya tidak memiliki ketahanan moral dan masih dikuasai sifat rakus, maka cita-cita membangun kesejahteraan dan ketahanan pangan akan sulit diwujudkan.

Selain aspek keagamaan, ia juga menyoroti dampak ekonomi dari keberadaan pesantren dan kehidupan keagamaan di Rembang.

Menurutnya, keberadaan kiai, pesantren, santri, serta kegiatan keagamaan turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Rembang menjadi tujuan para santri dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu, yang secara tidak langsung memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Karena itu, menurutnya, apabila kehidupan keagamaan mengalami penurunan, maka aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar sektor tersebut juga berpotensi terdampak.

Atas persoalan tersebut, PPP Rembang mengajak seluruh kekuatan politik dan elemen masyarakat untuk memberikan perhatian. PPP menyebut PDI Perjuangan, PKB, Golkar, NasDem, PAN, Hanura, Gerindra, terutama Demokrat, serta seluruh masyarakat Rembang agar bersama-sama menyikapi persoalan penghentian dan penahanan dana hibah tersebut.

Bagi PPP, menjaga fasilitas dan kehidupan keagamaan bukan sekadar persoalan anggaran, tetapi juga bagian dari menjaga karakter masyarakat, membangun sumber daya manusia, menggerakkan ekonomi, serta menjaga masa depan Kabupaten Rembang.

Jurnaliska — Rembang


Penulis: Turmudzi Ikhsan Labib
Editor: Abdul Khalim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Wartawan Bodrex?

Struktur Redaksi Media dalam Jurnalistik Beserta Tugas dan Fungsinya

Cara Berpakaian Orang Jawa Kuno